Rabu, 10 September 2008

Puluhan Hektare Areal Hutan Jati Terbakar

Kebakaran hutan pasir putih di Situbondo, Jatim.

10/09/2008 15:03 - Kebakaran Hutan
Puluhan Hektare Areal Hutan Jati Terbakar

Liputan6.com, Situbondi: Kebakaran hebat melanda puluhan hektare hutan pasir putih di Situbondo, Jawa Timur, Rabu (10/9) siang. Api dengan mudah menjalar karena kondisi hutan yang kering akibat kemarau.

Pemadaman kebakaran di hutan jati ini tidak dapat segera dilakukan karena keterbatasan alat. Petugas Perhutani hanya mengandalkan ranting pohon untuk menjinakkan kobaran api.

Menurut petugas, kebakaran terjadi akibat ulah orang yang tidak bertanggung jawab yang membakar sampah di sekitar areal hutan yang berada tidak jauh dari jalan raya.(JUM/Agus Ainul Yaqin dan Taufiqurahman)

Senin, 08 September 2008

Keajaiban: Pohon Nangka Berbuah Tanpa Kulit

Ada Nangka Berbuah Tanpa Kulit
Keunikan pohon nangka berbuah tanpa kulit atau Naked Jackfruit bisa disaksikan di Taman Wisata Mekarsari, Bogor, Senin (8/9). Buah nangka tanpa kulit ini kemungkinan besar disebabkan akibat mutasi indukan awal.
Senin, 8 September 2008 | 16:09 WIB

BOGOR, SENIN — Anda mungkin tidak percaya saat mendengar pohon nangka berbuah tanpa kulit. Namun, boleh percaya atau tidak, di Taman Wisata Mekarsari salah satu pohon nangka berbuah demikian.

Pohon yang merupakan varietas Artocarpus heterophyllus ini adalah satu dari sepuluh tanaman andalan Taman Wisata Mekarsari yang disebut The Ten Most Amazing Trees dan biasa disebut Naked Jackfruit.

Keunikan buah nangka ini, menurut Kepala Bagian Kebun Produksi dan Penelitian Taman Wisata Mekarsari AF Margianasari, baru terlihat setelah usia buah di atas delapan minggu. "Pada usia hingga empat minggu bentuk buah masih normal seperti buah nngka pada umumnya. Baru setelah delapan minggu, buah mulai pecah dan besar keluar dari daminya," ujar Mergianasari yang akrab dipanggil Riris.

Naked Jackfruit ini sepintas juga terlihat menyerupai buah pisang yang menempel pada buah nangka. Margianasari mengungkapkan, keunikan yang terjadi pada buah pohon tersebut diperkirkan akibat mutasi indukan awal.

"Kemungkinan besar akibat mutasi yang terjadi pada indukan awal atau perubahan sel yang tampak dari fisik buah. Mutasi bisa disebabkan oleh stres tanaman, hama penyakit, virus, dan kondisi alam," tegasnya.

Lima buah pohon nangka tersebut merupakan buah yang pertama kali setelah selama 3,5 tahun pohon tersebut dikembangkan di Taman Wisata Mekarsari. Kelima-limanya memiliki kesamaan bentuk atau berbuah tanpa kulit. "Kemungkinan pada bulan ini buah pohon nangka ini sudah bisa dipanen. Ini adalah panen perdana," ujar Catherina W Day, Humas Taman Wisata Mekarsari.

Penemuan Naked Jackfruit ini, menurut Margianasari, berasal dari pohon nangka yang dipelihara oleh H Ikhsan, warga Rawa Bogel, Bekasi Utara. Dari informasi pemiliknya, pihak Mekarsari pada tahun 2004 memperbanyak pohon nangka milik H Ikhsan tersebut dengan metode sambung susu.

Saat ini Taman Wisata Mekarsari telah mengembangkan pohon unik tersebut. "Kurang lebih kami memiliki sekitar 200 bibit pohon nangka hasil perbanyakan. Biasanya yang ingin memiliki bibitnya adalah kolektor tanaman," katanya. Tertarik ingin melihat? Buktikan sendiri di Taman Wisata Mekarsari.


Kristianto Purnomo

Sabtu, 31 Mei 2008

Kawanan Beruang Satroni Rumah Karyawan Perkebunan Teh

Kawanan Beruang Satroni Rumah Karyawan Perkebunan Teh
Sabtu, 31 May 2008 | 21:40 WIB

TEMPO Interaktif, Padang:


Aksi dua ekor beruang hutan setinggi satu meter membuat heboh warga perumahan karyawan PT Perkebunan Nusantara VI Kebun Danau Kembar di Kayu Jao, Kabupaten Solok. Kedua beruang berbulu hitam dengan moncong putih itu menyatroni sejumlah rumah. Mereka masuk ke dapur, menjarah makanan, minum susu, memakan gula dan mengobrak-abrik isi dapur.

Sugiono, karyawan pabrik PT Perkebunan Nusantara VI menceritakan, seekor di antara beruang masuk ke dapurnya pada Jumat (30/5) sore.
"Awalnya saya dan istri mendengar ada suara benda jatuh di dapur, dikira kucing, saat dilihat Rita istri saya, dia langsung menjerit, karena ternyata seekor beruang sedang menjatuhkan kompor gas dan menggulingkan tabung gas," katanya kepada Tempo, Sabtu (31/5).

Beruang itu juga memakan apa saja yang ada di dapur seperti gula aren, minyak goreng, tepung beras, membuka kaleng susu dengan cakarnya dan menjilatnya sampai habis.
Karena istrinya menjerit, tetangga pun berdatangan dan mengusir beruang. Hewan yang dilindungi itu lari ke jurang di belakang rumah Sugiono dengan menjebol atap seng.
"Seminggu ini kami sering melihat dua ekor beruang di jurang, ada juga yang mengatakan telah melihat empat ekor beruang," kata Sugiono.

Sehari sebelumnya, seekor beruang juga masuk ke dapur dua tetangga Sugiono yang letaknya berjauhan.
"Di tempat teman saya beruang itu memakan telur, kopi, nasi, dan menjebol periuk dengan cakarnya serta makan gulai ikan," katanya.

Sugiono mengatakan manajer PT Perkebunan Nusantara VI sudah melaporkan teror beruang itu kepada polisi kehutanan, namun belum ada tindakan.
"Kami amat resah, karena takut kalau jatuh korban, itu kan binatang buas, sebaiknya memang ditangani polisi hutan karena beruang kan binatang yang dilindung," katanya.
Ia menduga habitat beruang itu terganggu oleh penambangan emas yang dilakukan masyarakat secara ilegal di tengah hutan tak jauh dari perkebunan teh.

"Ada masyarakat kampung sebelah cerita, seminggu yang lalu penambang emas di tengah hutan itu juga diganggu, makanan mereka diambil beruang, kemungkinan habitat beruang ini terganggu dengan kehadiran penambang emas yang menggunakan air raksa," kata Sugiono.

Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya (BKSDA) Sumatera Barat, Indra Arinal yang dihubungi melalui telepon genggamnya, Sabtu (31/5) pukul 19.30 WIB mengatakan, telah mengirim 3 orang petugas KSDA ke lokasi untuk menghalau beruang tersebut kembali ke hutan.
"Sudah berangkat sejak kemarin, langkah pertama kita usahakan menghalau, kalau tidak bisa akan dipindahkan ke tempat lain, dan kita sudah siapkan perangkap serta senjata bius, karena beruang ini termasuk hewan yang dilindungi," kata Indra.

Febrianti/Tempo Newsroom

Jumat, 21 Maret 2008

Sistim irigasi Subak perlu dikembangkan ke seluruh Indonesia

22/03/08 10:59

"Subak" di Bali Tetap Eksis



Denpasar (ANTARA News) - Subak, organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian di Bali mampu beradaptasi dengan teknologi modern dan kehadirannya tetap eksis hingga sekarang.

Organisasi bidang pengairan yang diwarisi secara turun-temurun sejak sepuluh abad silam itu sangat berperan dalam memberikan pelayanan kepada petani yang menjadi anggotanya, kata Dr Ir I Wayan Windia, dosen jurusan sosial ekonomi pertanian Fakultas Pertanian Universitas Udayana di Denpasar, Sabtu.

Ia mengakui, subak dengan berbagai kendala dan kelemahan telah mampu memerankan sebagai suatu sistem irigasi yang berwatak sosiol budaya secara berkesinambungan.

Namun dalam perkembangannya, kini subak menghadapi banyak tantangan, dan mengalami proses marjinalisasi, termasuk semakin tersisihkannya sektor pertanian.

Perkembangan subak di Bali pada tahun 600 telah diketahui adanya kebudayaan pertanian lahan kering (parlak) dan lahan basah/sawah (huma).

Sedangkan tahun 1072 telah ada subak sesuai hasil penelitian Goris pada (1954). Sistem pertanian lahan basah (sawah) sudah ada sebelum abad ke-11.

Subak merupakan lembaga yang mengatur air ke sawah-sawah untuk pertanian, sistem irigasi yang baik, sangat efektif untuk memungut pajak tanah.

Windia menambahkan, subak dalam perkembangannya, semasa Bali dalam naungan Kerajaan Majapahit, tahun 1343, diangkat petugas "sedahan" yang mengkoordinasikan beberapa subak dalam satu wilayah sumber air.

Bagi lahan basah disebut Sedahan Yeh (Sedahan Tembuku atau Sedahan Tukad). Sedangkan untuk lahan kering disebut Sedahan Tegal atau Sedahan Abian. Pada tingkat daerah (wilayah kerajaan) para sedahan dikoordinasikan oleh Sedahan Agung.

Subak memiliki berbagai kearifan (kecerdasan) lokal yang telah diwarisi masyarakat pendukungnya secara turun-temurun.

Kearifan lokal tersebut antara lain memiliki sifat dasar sosio-kultural maupun sosio-religius yang unik dan unggul.

Kearifan lokal dengan berbagai kecerdasan pada organisasi subak merupakan bagian dari kebudayaan. Kearifan lokal dalam organisasi subak berbasis konsepsi Tri Hita Karana dan mendapat apresiasi unirversal terkait dengan kandungan filosofi kosmos, theos, antropos, dan logos, yakni hubungan yang serasi dan harmonis sesama umat manusia, lingkungan dan Tuhan yang Maha Esa.

"Esensi kearifan lokal adalah komitmen yang tinggi terhadap kelestarian alam, rasa religiusitas, subyektivikasi manusia dan konstruksi penalaran yang berempati pada persembahan, harmoni, kebersamaan, dan keseimbangan untuk `jagadhita` (alam raya) berkelanjutan," ujar Wayan Windia.
(*)

COPYRIGHT © 2008

Kamis, 20 Maret 2008

Bantul dan Purbalingga adalah contoh Pemda pro petani

Bantul dan Purbalingga Berupaya Lindungi Petani
Pemkab Bantul Sediakan Dana Rp 3,5 Miliar
Rabu, 19 Maret 2008 | 00:22 WIB

Bantul, Kompas - Hingga saat ini baru Pemerintah Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Pemerintah Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, yang memiliki kebijakan nyata untuk membela petani.

Kedua kabupaten itu berani membeli komoditas pertanian hasil petani setempat dengan harga pembelian pemerintah (HPP) yang melindungi petani.

Saat ini ketika harga gabah di pasaran turun hingga Rp 1.750 per kg, Pemkab Bantul siap memborong gabah seharga Rp 2.000 per kg sesuai dengan HPP.

Sementara itu, Pemkab Purbalingga melalui Perusahaan Daerah Pusat Pengolahan Hasil Pertanian Utama (Perusda Puspahastama) telah membeli 200 ton gabah petani dan akan kembali ”menyerap” 1.800 ton gabah milik petani Purbalingga.

Direktur Perusda Puspahastama Wachdiono, Selasa (18/3), mengatakan, belum seluruh gabah panen petani diserap karena panen padi di Purbalingga tidak serentak. ”200 ton gabah itu diserap dari enam kelompok tani dari 300 kelompok tani yang ada di Purbalingga. Ini baru sebagian,” kata Wachdiono.

Menurut dia, pihaknya tak hanya menyerap gabah dari kelompok tani, tetapi juga dari pengepul maupun pedagang gabah. Hanya, HPP Rp 2.000 per kg hanya diterapkan bagi gabah milik kelompok tani. Terhadap gabah milik pedagang, digunakan harga pasaran, yaitu lebih rendah dari HPP, Rp 1.700-Rp 1.800 per kg.

”Harga jual beras yang kami produksi akan mencapai Rp 4.500 per kg, sedangkan Bulog, kan, hanya Rp 4.000 kg. Hal itu karena kami menambah biaya produksi untuk mengeringkan gabah petani menggunakan bahan bakar solar, Rp 175 per kg,” katanya.

Sejak digulirkan tahun 2001, Pemkab Bantul secara khusus menyediakan dana Rp 3,5 miliar untuk membeli tujuh komoditas pertanian jika harga jual berada di bawah titik impas.

”Namun, sampai sekarang belum ada petani yang mau menjual padinya ke kami. Mungkin karena masa panen belum mencapai puncaknya. Sebagian petani lebih memilih menjual dalam bentuk beras,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edy Suharyanto, Selasa.

Selain gabah, ada enam komoditas pertanian lain yang harganya dijamin Pemkab Bantul, yakni jagung dengan titik impas Rp 1.300 per kg, kedelai Rp 3.000 per kg, kacang tanah Rp 1.500 per kg, cabai Rp 1.200 per kg, bawang merah Rp 2.000 per kg, dan tembakau Rp 14.000 per kg. Namun, sejak akhir tahun 2007, Pemkab Bantul menghentikan pembelian tembakau dan mengalihkan ke tanaman palawija.

”Paling sulit menjual tembakau karena hanya bisa ke pabrik rokok, atau perokok yang biasa melinting sendiri,” kata Edy.

Bagi petani Bantul, program stabilisasi harga membuat mereka tidak khawatir akan rugi dan tetap semangat bertani.

”Minimal yang saya peroleh adalah harga di titik impas,” kata Sudi, petani di Desa Baturetno, Banguntapan. (PRA/ENY/MDN/GAL)

Keluarga Harmonis, Tekanan Darah pun Rendah


Jumat, 21 Maret 2008 | 00:38 WIB

ANDA mungkin tidak menyangka bahwa kehidupan keluarga yang harmonis bakal mempengaruhi kesehatan Anda secara umum, terutama tekanan darah. Sebuah penelitian di awal hipotesisnya menyebutkan bahwa kehidupan keluarga yang membahagiakan sangat baik bagi tekanan darah. Sebaliknya kehidupan keluarga yang gonjang-ganjing terus menerus justru tidak lebih baik dibanding mereka yang hidupnya sendiri alias singel.

Namun, temuan kedua justru mengejutkan. Dikatakan bahwa orang yang sudah menikah justru cenderung lebih sehat dibanding mereka yang masih singel. Demikian diungkapkan sang periset, Julianne Holt-Lunstad.

Menurut asisten profesor bidang psikologi dari Brigham Young University ini, butuh waktu yang ada lama untuk meneliti lebih lanjut bagaimana kondisinya (kesehatan) dalam jangka waktu lama.

Penelitian yang yang dipublikasikan secara online oleh Annals of Behavioral Medicine, Kamis (20/3), melibatkan sekurangnya 204 pasangan dan 99 singel. Kebanyakan dari mereka adalah orang kulit putih. Tidak jelas, apakah hasilnya bakal sama bila etnik lain yang diteliti, jelas Holt Lunstad.

Para relawan ini memakai alat yang dapat merekam tekanan darah mereka di waktu-waktu tertentu secara acak selama 24 jam. Para peserta yang menikah juga mengisi kuestioner mengenai pengalaman mereka selama menikah.

Dari analisis yang dibuat ditemukan bahwa mereka yang menikah merasa lebih puas dan tekanan darahnya lebih rendah dibanding yang tidak selama 24 jam lebih pemantauan.

Namun demikian, ditemukan juga bahwa pasangan yang merasa tidak puas dengan pernikahannya memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibanding mereka yang singel. Sepanjang siang hari, rata-rata ketinggian mencapai poin lima, nyaris mendekati tanda-tanda bahaya.

"Saya pikir, penelitian ini layak diperhatikan," ujar Karen Matthews, profesor psikiatri, psikologi dan epidemiologi di Universitas Pittsburg. Karena adalah peneliti hubungan antara penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.

Beberapa penelitian yang menilai risiko tingginya tekanan darah mempelihatkan bahwa kualitas pernikahan justru lebih rentan dibanding status pernikahan itu sendiri, jelas Karen.

Jadi, sangat masuk akal, bahwa kualitas lebih penting dibanding proses pernikahan itu sendiri ketika kita membicarakan soal tekanan darah , tegas Dr. Brian Baker, associate profesor psikiatri di Universitas Toronto.

Source: AP


ABD

Rabu, 27 Februari 2008

Coba Kalau 2000 Pulau Ditanam Sawit, Tidak Akan Tenggelam !!

2000 Pulau Akan Tenggelam pada 2030



Jakarta (ANTARA News) - Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) memperkirakan jika kondisi iklim global masih seperti saat ini maka pada 2030 sebanyak 2.000 dari sekitar 17.000 pulau saat ini di Indonesia akan tenggelam.

Kepala BRKP, Indroyono Susilo di Jakarta, Rabu mengatakan, pemanasan global yang terjadi saat ini telah menimbulkan efek gas rumah kaca yang berdampak pada peningkatan suhu bumi.

"Pemanasan suhu bumi tersebut akan menyebabkan es di kutub utara maupun kutub selatan akan melelah sehingga menambah tingkat permukaan air laut," katanya disela pemaparan rencana World Ocean Converence (WOC) 2009 di Manado Sulawesi Utara.

Pemaparan rencana WOC tersebut dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi selaku ketua panitia dan Gubernur Sulut, Sinyo Harry Sarundajang sebagai tuan rumah penyelenggaraan acara bertaraf internasional itu.

Indroyono memaparkan, pemanasan global dengan efek rumah kacanya yang berlangsung seperti saat ini akan menyebabkan kenaikan suhu bumi sekitar 1 derajat selsius dalam 100 tahun.

Dampak kenaikan suhu bumi tersebut, menurut dia, dalam 100 tahun permukaan laut juga mengalami peningkatan hingga 1 meter karena adanya penambahan air dari lelehan es di kutub utara maupun selatan.

"Dengan kondisi tersebut maka pada 2030 sedikitnya 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam begitu juga dengan kawasan Jakarta Utara," katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut bisa diantisipasi dengan melakukan pengurangan emisi gas karbon yang merupakan salah satu faktor pemicu pemanasan global.

Salah satu upaya mengurangi gas karbon tersebut, lanjutnya, yakni dengan pemeliharaan biota laut seperti padang lamun, mangrove atuapun terumbu karang yang memiliki kemampuan menyerap gas karbon diudara hingga 246 juta ton per tahun.

Sementara itu dalam WOC 2009 yang mengambil tema "Ocean and Climate Change" dan "Climate Change Impact to Oceans and The Role of Oceans to Climate Change" itu diharapkan melahirkan "Manado Ocean Declaration" (MOD).

Selain itu juga akan dibentuk World Ocean Forum yang akan melaksanakan rencana aksi MOD maupun memantau perkembangan kesepakatan Manado tersebut.


Anggaran Rp110 Miliar

Sementara itu untuk menyelenggarakan WOC 2009 Pemerintah Daerah Sulut telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp110 miliar untuk perbaikan infrastruktur seperti pelebaran jalan, perbaikan bandara, perbaikan jaringan listrik.

Gubernur Sulut, Sinyo H Sarundajang mengatakan, dari dana sebesar itu Rp70 miliar untuk perbaikan infrastruktur diantaranya pelebaran jalan maupun perbaikan jaringan listri, selain itu Rp40 miliar untuk pengembangan bandara.

Pemda Sulut, tambahnya, juga menggandeng swasta untuk pembangunan Convention Hall yang berkapasitas 3000 orang yang dilengkapai 250 kamar berbintang untuk menampung para peserta, dua gedung pertemuan serta kompleks pameran pembangunan dan budaya dengan nilai investasi sekitar Rp300 miliar.

"Kami optimis pelaksanaan WOC ini mampu meningkatkan gairah ekonomi mapun menarik wisatawan ke Sulut baik sebelum maupun saat berlangsungnya WOC," kata Sarundajang yang juga Wakil Ketua Panitia WOC 2009.(*)